Galak + Frontal + Mendadak Pemarah = Sia-Sia

Teman-teman yang baik.. :)
Sebenernya, banyak banget berita bagus yang belum sempat mega buat publikasinya di blog tercinta ini.
Sekarang yang mau mega pos malah ga ada bagus2nya..haha..
ya udah lah ya, ngikutin kata hati dulu..

Check this Out ;)

Angry

Setelah sadar, saya baru ngeh, selama setahun belakangan ini saya sedang belajar menjadi saya yang berbeda.

Awalnya saya pikir, ini yang disebut dengan TEGAS dan BERPENDIRIAN .
Namun, setelah ditelusuri lebih dalam, rupa-rupanya ini yang dinamakan FRONTAL dan EMOSIONAL.

Mirip, tapi jauh berbeda!

Tahun ini saya menduduki sebuah posisi yang mendorong saya untuk dapat bersikap layaknya seorang pemimpin. Saya rasa saya sedang dalam tahap berusaha belajar dan menuju kesana. Semoga tidak ada kedzoliman selama saya menjalankan amanah saya.
Di tempat ini pula saya merasa tertantang untuk mencoba lebih berani mengeluarkan apa yang ada di benak saya. Tempat ini sangat baru, sangat berbeda dengan tempat yang pernah saya singgahi sebelumnya. Suasana kerja, garis koordinasi, idealisme yang tinggi, belum begitu terasa di tempat ini. Hal yang amat nyata paling membuat nyaman adalah, karena ini adalah ‘rumah’ saya. Tempat dimana tipe orang yang bernaung di dalamnya, maupun orang-orang yang bersama-sama berjuang di tempat ini , yaah, 11 : 12 lah dengan saya. hehe..

Di setiap pertemuan, jika ada kesempatan bicara, saya langsung saja ungkapkan apa yang ada di benak saya. Hei, ternyata bicara dengan lantang itu bikin ketagihan loh!

Pernah di suatu pertemuan, terjadi sebuah kasus dimana secara prinsip, hal itu sangat tidak sesuai dengan saya. Entahlah, saya paling TIDAK SUKA dengan orang-orang tidak loyal. Dengan orang-orang yang memandang rendah sesuatu, apalagi kalau yang dipandang rendah adalah saya, atau sesuatu yang sedang saya BELA. Saya juga tipe orang yang sangat ingin dihargai. Jika saya berada dalam suatu forum, tentu saya harus tau apa saja yang terjadi dalam forum tersebut. Saya tidak suka, kalau saya menjadi satu-satunya orang yang baru tau tentang sebuah kejadian di forum tersebut, padahal semua orang sudah tau terlebih dahulu, atau sebenarnya saya sangat berhak untuk tau hal itu. Cukup dengan argumen ini, saya telah berhasil menunjukkan ‘KEGARANGAN’ saya pertama kali di pertemuan malam itu. Menjadi satu-satunya orang yang berbicara, dan tidak tanggung-tanggung, 15 MENIT saya habiskan untuk memaksa seisi forum untuk mendengarkan apa yang saya katakan.

Bangga? Jelas!

tapi..

Mental saya langsung down, saat menghadapi kenyataan bahwa perjuangan selama 2 x 15 menit menjadi ‘pembicara_lantang_tunggal’ ternyata SIA-SIA!
Tidak seorang pun yang mengerti apa yang saya katakan.
Buktinya, apa yang saya cegah untuk terjadi, tetap saja terjadi.

Bodoh rasanya bila saya bilang, saat ini saya ingin melihat apa yang orang pikirkan tentang saya. (ini menentang kata-kata “no matter what people say, just be your self!”). Dan ternyata, tidak cukup dengan menjadi Layaknya-Orang-Bodoh-Bicara-Dan-Tidak-DIdengarkan malam itu, saya pun dicap menjadi orang galak :(
Tidak sepenuhnya salah, tetapi, jujur saya sakit hati.. #sigh

Dua bulan kemudian, apa yang saya bicarakan menjadi kenyataan. Apa yang saya cegah untuk terjadi, dan akhirnya terjadi ternyata mengakibatkan sesuatu yang MEMANG TIDAK BAIK.

Kalo boleh saya bilang sekarang, “benar kan yang saya katakan dulu? coba kalian tidak hanya melihat saya dari sisi KEGALAKAN saya saja. Sayangnya saya tidak cukup bisa meyakinkan kalian, kalau saya bersikap demikian karena saya tulus menyayangi kalian.” :(

Puncak kerusakan saya adalah selama kurang lebih 2 minggu terakhir ini.

Kembali, terdapat kasus yang serupa terjadi di tempat ini.

Seseorang melanggar prinsip yang saya tanam di kepala saya bahwa menurut saya “SESEORANG HARUS MENJALANKAN TUGASNYA SAMPAI SELESAI atau minimal bertahan sampai waktunya habis.”
Apapun alasannnya, bagaimanapun sebenarnya saya bisa terima alasannya, namun prinsip awal tadi lah yang lebih lekat di benak saya.

Kembali dengan menjunjung tinggi semangat “BERANI BICARA” saya kembali menuturkan apa yang ada di benak saya secara FRONTAL/KERAS/NYOLOT di depan forum. Kasusnya serupa, tapi entah kenapa untuk yang kali ini, saya merasa seluruh emosi dan tenaga saya seperti tercurah ke dalamnya.Baik di dalam maupun di luar forum, saya bahkan ‘meluangkan waktu’ untuk menangisi, berpikir dengan keras, mempermalukan diri sendiri dengan berteriak dan marah-marah ke orang lain yang menurut saya juga turut andil dalam hal pelanggaran prinsip ini, hingga memohon-mohon agar apa yang saya tidak inginkan ini tidak terjadi (dan mengulang kegagalan usaha saya di kasus sebelumnya).

Walhasil, bisa ditebak?

SIA SIA!

Apa yang saya perjuangkan untuk tidak terjadi, ternyata tetap saja terjadi.

Sudah lihat kan, apa yang menjadi dasar pembuatan judul tulisan kali ini?

Saya memang berubah menjadi lebih berani. Namun, berani bicara seharusnya diikuti dengan manajemen emosi yang setara.

Karena akibat dari rasa kecewa akibat sia-sianya seluruh tenaga dan emosi saya rasanya sangat sulit hilang. Hingga tulisan ini dibuat, saya belum juga melupakan kejadian ini. Dan bahkan saya belum tau pasti bagaimana caranya saya mengembalikan kepercayaan diri saya untuk kembali berbicara lantang bila memang itu dibutuhkan, karena saya sudah terlalu menjelek-jelekkan diri saya sendiri hanya demi memperjuangkan sesuatu yang menurut saya benar, namun ternyata sia-sia.

Bicaralah seperlunya.

Bicaralah dengan secerdas mungkin.

Bila tidak bisa, lebih baik DIAM saja.

-masih terluka-

Mega

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s